Singapura Hadirkan “Kota Mini” dengan Kendaraan Otonom

Kendaraan Otonom di kota mini Singapura (Bloomberg)

Singapura kembali membuat negaranya dimudahkan dengan segala hal teknologi salah satunya membuat kota mini dengan berisi kendaraan tanpa pengemudi. Kota ini hanya sebesar dua hektar dan akan dibuka pada November 2018 mendatang.

Baca juga: Kendati Futuristik, Namun Masih Banyak yang Meragukan Pod Otonom

Dalam kompleks ini nantinya akan ada bukit kecil yang memeriksa cara kerja sensor kendaraan saat tidak bisa melihat jalanan yang ada didepanya. Gedung pencakar langit untuk membuat tiruan gangguan radio dan mesin pembuat hujan buatan yang sering terjadi di Singapura.

KabarPenumpang.com melansir dari laman thejakartapost.com (6/6/2018), Singapura dengan hadirnya ini membantu membangun basis data informasi yang tak tertandingi terkait tantangan dan solusi dimana memungkinkan pemerintah untuk memperkenalkan teknologi dengan aman.

“Kami mungkin satu-satunya negara yang melihat ini dengan cara yang proaktif dan sistematis. Apa yang kami lihat sebenarnya adalah penerapan peraturan,” ujar Mantan Wakil Sekretaris di Kementerian Transportas, Lee Chuan Teck.

Lee mengatakan data yang dikumpulkan harus memungkinkan pemerintah membuat peraturan kendaraan otonom pada tahun kedua. Saat ini diketahui ada sepuluh perusahaan yang menguji kendaraan otonom buatan Nanyang Technological University.

Direktur Program Future Mobility Solution, Niels de Boer mengatakan, dua bus dari Volvo AB akan bergabung dengan mereka awal tahun depan dan akan ada banyak lagi yang datang. Nantinya kecepatan berjalannya kendaraan otonom hanya 20-25 km per jam.

“Kami akan lihat lingkungan yang terkendali meski banyak hambatan,” ujarnya.

Pada kota ini ada tujuh kamera 360 derajat yang menghadirkan video secara langsung ke Land Transport Authority’s Intelligent Transport Systems Centre. Bersama dengan informasi yang dikumpulkan dari kendaraan, pemerintah sedang membangun basis data yang memungkinkan untuk mengevaluasi apakah EV siap untuk jalan umum dan bagaimana mereka harus dikerahkan.

Nanyang Technological University sedang menguji sebuah minibus tanpa sopir 15 penumpang yang dibangun oleh perusahaan Perancis Navya SAS, dimana peneliti dapat beroperasi menggunakan perangkat lunak otonom atau secara manual melalui handset gaya video game. Bus menavigasi jalur, berhenti di depan pejalan kaki yang tersesat di jalan dan berhenti di halte bus untuk mengumpulkan dan mengantarkan penumpang, meskipun beberapa fungsi, seperti bergerak di lampu lalu lintas masih harus dimulai secara manual.

Satu-satunya tempat bus tidak akan berjalan adalah ke tempat dengan simulator karena bus sempat rusak terkena badai petir belum lama ini. Sebab sejauh ini, kendaraan yang diuji di tempat yang ada mesin hujan buatan tidak bekerja dengan baik.

Sekitar 70 persennya sensor pada kendaraan tidak berjalan dengan baik saat hujan lebat. Bus uji universitas mungkin bukan kendaraan otonom eksperimental paling canggih yang digunakan, tetapi itu menunjukkan bahwa kendaraan tanpa pengemudi masih memiliki banyak rintangan untuk diatasi.

Baca juga: Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda

Sementara penggunaan AI berarti bahwa mesin akan belajar dengan cepat dari kesalahan mereka, pelajaran nyata dari taman uji adalah kebutuhan akan infrastruktur canggih di luar kendaraan.

“Infrastruktur akan menjadi lebih penting. Tidak cukup untuk mengetahui di mana kendaraan itu berada,” kata de Boer.

Operator dan petugas lalu lintas juga harus memantau banyak kejadian lain yang mungkin penumpang tua yang jatuh di dalam bus, antrian yang luar biasa besar di halte bus, kerusakan dan kejadian lainnya.