Setelah 25 Tahun Stop Produksi, Lockheed Martin Tampilkan L-100 di Paris AirShow 2017

Dalam dunia penerbangan, nama C-130 Hercules begitu melegenda sebagai pesawat angkut berat bermesin turboprop. Selain kondang mengemban misi militer dan operasi kemanusiaan, Lockheed Martin selaku manufaktur juga merilis pesawat bermesin empat ini untuk kebutuhan sipil, artinya ada sosok Hercules yang dirancang untuk pasar maskapai penerbangan sipil komersial. Untuk varian sipil Hercules ini diberi label L-100. Pesawat ini pun sejatinya tak asing dalam dunia penerbagan di Indonesia, tercatat maskapai Merpati Nusantara Airlines dan Pelita Air Services, pernah mengoperasikan Lockheed L-100-30.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Berbeda dengan C-130 Hercules yang laris manis dalam penjualan, maka nasib L-100 berbanding terbalik. Sejak mulai diproduksi pada tahun 1964, produksi L-100 dalam berbagai varian dihentikan pada tahun 1992. Menjelang dihentikannya produksi L-100, Lockheed sempat mengembangkan pesawat ini menjadi varian paling mutakir L-100J. Disebut mutakhir mengingat L-100J dibangun dengan mengacu dari platform C-130J Super Hercules. L-100J yang ekuivalen dengan C-130J lengkap dengan mesin turboprop canggih Rolls-Royce (Allison) AE-2100D3, baling-baling enam bilah, dan EFIS dua kru. Tapi program sayangnya dibatalkan pada tahun 2000 karena Lockheed ingin fokus di versi militer saja.

Nah, dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (12/6/2017), ada kabar terbaru dari ajang Paris Air Show yang akan berlangsung di Le Bourget Airport dari 19 – 21 Juni 2017, bahwa Lockheed akan menampilkan kembali L-100J Super Hercules di depan publik. Selain dirancang untuk penerbangan penumpang komersial, L-100J juga disiapkan untuk multi purpose mission, sebuat saja mulai dari penyemperotan udara, pemadam kebakaran, SAR, ambulans udara, transportasi VIP, dan pengiriman kargo dalam ukuran besar.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

“Pada 25 Mei lalu L-100J telah melalui flight test yang memuaskan, dan karena kinerjanya yang memuaskan, kami putuskan untuk membawa pesawat ini ke Paris AirShow 2017, yang dikenal sebagai pameran dirgantara terbesar di dunia,” ujar George Shultz, VP and general manager, Air Mobility & Maritime Missions Lockheed Martin.

Di Indonesia saat ini L-100 masih dioperasikan, tapi bukan lagi oleh penerbangan sipil. Pada tahun 1995 TNI AU mendapat hibah dua unit L-100-30 dari maskapai Merpati Nusantara Airlines, dan tiga unit L-100-30 dari Pelita Air service. Kelima pesawat tersebut kini menjadi etalase Skadron Udara 31, masing-masing dengan nomer A-1325, A-1326, A-1327, A-1338 dan A-1329.

Merujuk ke sejarahnya, Lockheed memutuskan untuk memproduksi varian sipil C-130 Hercules pada dekade 60-an. Sebagai platform pengembangan, Lockheed memanfaatkan basis C-130E Hercules yang sudah dispilkan. Selanjutnya prototipe pertama L-100 terbang perdana pada 20 April 1964 dengan melaukan penerbangan selama satu jam 25 menit. Kemudian sertifikasi kelayakan penerbangan L-100 resmi didapat pada 16 Februari 1965. Pesanan perdana L-100 berjumlah 21 unit untuk Continental Air Services pada tahun 1965.