PT Mata Pensil Globalindo Raih Hak Cipta Teknologi “Automatic Vehicle Classification”

Ada yang berbeda di lintasan kendaraan bermotor pada penyeberangan ferry Merak-Bakauheni. Dibandingkan pelabuhan lain di Tanah Air, memang baru Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten dan Pelabuhan Bakauheni di Lampung yang dilengkapi solusi Automatic Vehicle Classification, yakni teknologi klasifikasi golongan kendaraan berbasis pemindaian ukuran kendaraan secara otomatis lewat sensor.

Baca juga: Dinas Perhubungan dan DPRD Bengkalis Jajaki Teknologi Automatic Vehicle Classification dari PT Mata Pensil Globalindo

Dengan Automatic Vehicle Classification yang dirilis perdana pada November 2015, membawa perubahan besar pada lingkup operasional di pelabuhan yang dikelola BUMN PT ASDP Indonesia Ferry. Sejak Automatic Vehicle Classification diterapkan, maka PT ASDP mulai mengenal sistem database kendaraan dan manifes penumpang yang sangat penting dalam industri transportasi, terkhusus yang menyangkut standar keselamatan dalam pelayaran.

Yang tak kalah penting, berkat Automatic Vehicle Classification, laba alias keuntungan dari penjualan tiket dapat didongkrak. Ini bukan lantaran gimick promosi dari penyedia pelayaran, melainkan Automatic Vehicle Classification dapat meminimalisir kebocoran aliran pendapatan yang selama ini bak duri dalam daging di pelabuhan-pelabuhan.

Dan setelah dirilis 2015 silam, ada kabar bahwa PT Mata Pensil Globalindo (MPG) telah resmi mendapatkan hak cipta atas teknologi Automatic Vehicle Classification dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). “Ini merupakan bentuk pengakuan atas sistem yang telah kami rancang dan kami kembangkan secara mandiri,” ujar Romi Syaf Putra, CEO PT Mata Pensil Globalindo kepada KabarPenumpang.com di Jakarta (30/1/2018).

Automatic Vehicle Classification pada dasarnya bekerja dengan dukungan sensor LIDAR (Light Detection and Ranging). Maka tak heran bila menjelang masuk gerbang kendaraan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, terlihat tiang-tiang sensor untuk proses pemindaian sensor.

Meski secara prinsip teknologi LIDAR sudah banyak diterapkan, namun bukan perkara mudah untuk implementasi di sistem Automatic Vehicle Classification. “Kami memerlukan upaya ekstra untuk mengidentifikasi beragam jenis kendaraan yang ada di pasaran, tujuannya tentu agar profil setiap kendaraan dapat dikenali oleh sistem di lapangan,” kata Romi. Ia menambahkan, banyaknya modifikasi kendaraan yang dilakukan oleh pengguna jasa, serta karoseri yang tak memenuhi standar, tak pelak menjadi tantangan pada tahap-tahap awal implementasi Automatic Vehicle Classification.

Baca juga: Ini Daftar 9 Pelabuhan Laut Tersibuk di Indonesia

Dan kini setelah manfaat positif Automatic Vehicle Classification dirasakan banyak pihak, pelabuhan-pelabuhan lain mulai melirik untuk mengadopsi Automatic Vehicle Classification. Seperti belum lama Dinas Perhubungan Kabupaten Bengkalis telah menyatakan ketertarikannya pada solusi buatan dalam negeri ini.