Penumpang di Inggris Bisa Dikenakan Denda Jika Kedapatan Mainkan Gadget!

Ilustrasi. Sumber: istimewa

Sudah menjadi rahasia umum jika berkendara sembari memainkan gadget merupakan hal yang ilegal di seluruh dunia. Tidak ada satupun otoritas berwajib di setiap negara yang mengijinkan para pengemudinya menggunakan ponsel atau gadget ketika tengah berkendara. Namun, apa jadinya jika penumpang yang berada di dalam kendaraan pun dilarang untuk memainkan gadget mereka? Ya, ini bukanlah isapan jempol semata, karena ada wilayah di dunia yg menerapkan peraturan seperti ini.

Baca Juga: Dipengaruhi Inggris dan Jepang, Indonesia Anut Mazhab Setir Kemudi di Kanan

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cambridge-news.co.uk, definisi penumpang yang dimaksud di atas adalah instruktur pengemudi. Di Inggris, Anda akan dikenakan denda hukuman hingga £200 atau yang setara dengan Rp3,3 juta semisal Anda kedapatan memainkan gadget ketika tengah menginstrukturi seorang calon pengemudi. Denda tersebut berlaku bahkan ketika Anda duduk di bangku penumpang.

Agar setara, peraturan ini tidak hanya berlaku kepada para instruktur mengemudi saja, pun berlaku pada teman atau keluarga yang tengah mengajarkan seorang individu untuk mengemudi. Direktur Kebijakan dan Penelitian dari IAM RoadSmart, Neil Greig mengatakan bahwa membimbing seseorang yang tengah belajar mengemudi artinya memaksa Anda untuk duduk di bangku depan, dan secara tidak langsung, Anda harus turut mengawasi jalan.

“Bahkan Anda harus bersikap layaknya Anda sedang mengemudi sebuah kendaraan, benar-benar fokus terhadap jalan dan tidak mencabangkan konsetrasi,” tutur Neil. “Tidak bisa dipungkiri, belajar mengemudi merupakan hal yang cukup membuat stress,” tandasnya. Jika ditelaah lebih dalam lagi, aturan seperti ini patut ditiru oleh negara-negara lain, dimana hasil dari penerapan peraturan ini akan berdampak pada kondisi lalu lintas yang lebih tertib.

Baca Juga: Gantungkan Raket, Mantan Petenis Profesional Kini di Balik Kemudi Black Cab Modern!

Di Indonesia sendiri, tidak sedikit pengemudi yang mendapatkan lisensi ‘abal-abal’ karena kurangnya pengawasan dari sang instruktur. Atau yang lebih parahnya lagi, masih ada saja oknum kepolisian yang ‘membuka’ jasa sogokan supaya pemohon lisensi tidak perlu mengikuti tes. Tanpa di sadari, hal ini bisa memperkeruh kondisi di jalanan.