Musim Hujan Tiba, Mungkinkah Bakal Ada Ojek Payung Online?

Sumber: tribun

Siapkan payung Anda karena musim penghujan sudah mulai kembali merundung Ibukota. Kondisi jalanan di Ibukota yang mudah banjir karena sistem drainase yang buruk memaksa sebagian warga Jakarta beralih menggunakan moda transportasi umum bebasis massal, seperti Commuter Line (KRL Jabodetabek) dan TransJakarta. Tak ayal, dua tulang punggung transportasi warga Ibukota ini menjadi semakin ruwet dan sumpek.

Baca Juga: Selain Cegah Hujan, Payung Juga Bisa Lawan Tindakan Kriminal

Bak melihat secercah harapan, kehadiran ojek payung di beberapa stasiun kereta pun melengkapi kehadiran tukang ojek pangkalan dan online. Trio ojek ini siap melayani para penumpangnya menerobos hujan yang kadang tak tentu kapan datangnya. Tidak hanya di stasiun, pusat perbelanjaan pun kerap dijadikan peraduan para pekerja keras pengais pundi-pundi rupiah ini.

Bagi sebagian warga Ibukota masih enggan untuk membawa payung, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Mulai dari payung tidak bisa masuk tas hingga kesulitan mereka membawa payung yang basah karena hujan. Beragam alasan tersebut semakin melebarkan senyum para ojek payung, yang biasanya didominasi oleh anak-anak kecil sepantaran SD. Ironi tersendiri melihat mereka basah kuyup menantang hujan, sedangkan para penyewa bisa berlindung dibalik payung yang mereka jajakan.

Tak sedikit para penyewa yang lalu merangkul para anak-anak penjaja sewaan payung ini untuk sama-sama berjalan di bawahnya, bahkan tidak jarang juga anak-anak kecil ini menerima tips lebih dari para penyewa yang merasa iba dengannya.

Sedikit banyaknya, kehadiran ojek payung ini membuat Paskal Gameryo mengunggah keinginannya ke laman blogspot-nya untuk membuat sebuah perusahaan berbasis aplikasi yang akan membawahi para ojek payung ini, Go-Yung namanya. Dengan menerapkan sistem yang hampir serupa dengan penyedia jasa transportasi berbasis online lainnya, Paskal percaya ide gila di dunia maya ini akan menimbukan sebuah gebrakan di dunia nyata. Terlepas dari tingkat keseriusannya, ide menyediakan ojek payung berbasis aplikasi ini sudah pernah tercetus dan masih butuh pertimbangan matang untuk merealisasikannya.

Jangan sampai seperti yang terjadi di Tiongkok, dimana sebuah startup membuat aplikasi bernama Sharing E Umbrella. Dengan aplikasi ini, pengguna bisa menyewa payung dengan tarif yang murah, yaitu sekitar 19 yuan atau yang setara dengan Rp37 ribu untuk membuka kunci payung setelah memindai kunci dengan kode di gawai mereka.  Setiap setengah jam, biayanya bertambah 0,5 yuan (Rp984). Pengguna pun harus mengisi kodenya supaya bisa membayar tarif ini.

Baca Juga: Supaya Tak Kehujanan Saat Bersepeda, Payung Under Cover Solusinya

Namun sayang, perusahaan tersebut harus merelakan 300 ribu payungnya raib entah kemana, terhitung sejak awal pengoperasiannya pada April 2017. Aturan denda sebesar 60 yuan atau sekitar Rp118 ribu untuk setiap payung yang hilang juga rupanya tidak diindahkan para penyewa. “Payungnya mungkin dibawa pulang ke rumah,” tutur pendiri Sharing E Umbrella, Zhao Shuping, dikutip KabarPenumpang.com dari laman dream.co.id (13/7/2017).

Entah perhitungan yang kurang matang atau tingginya rasa memiliki warga Tiongkok yang akhirnya merugikan perusahaan ini, namun yang pasti, pepatah “Sedia payung sebelum hujan” menunjukkan eksistensinya di sini. Lebih baik Anda mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu (payung), sebelum merugi di kemudian hari (kehujanan).