Modus Perampokan Baru, Korban Penumpang Taksi diturunkan Selamat

Ilustrasi perampokan dalam taksi (Kompas.com)

Modus perampokan pada taksi memang banyak ragamnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari jamaica-star.com (1/7/2017), baru-baru ini seorang pria menyamar menjadi seorang penumpang taksi dan merampok penumpang lainnya saat berada di dalam taksi. Sebelumnya perlu dijelaskan, bahwa taksi di Jamaika ini menganut model ride sharing, meski bukan berbasis aplikasi, artinya dalam satu taksi bisa memuat dua sampai tiga orang penumpang yang tak saling kenal.

Baca juga: Nissan Leaf, Mobil Listrik Favorit Perusahaan Taksi dan Pengguna Pribadi

Penumpang yang jadi korban awalnya tidak memiliki kecurigaan apapun terhadap pengemudi dan ini seperti modus baru. Dari laporan yang didapat, Kamis ( 29/6/2017), seorang pria di rampok dengan laptop dan dompetnya diambil saat memasuki taksi, kejadian tersebut terjadi di sepanjang jalan Boulevard Washington.

Saat itu korban masuk ke dalam mobil dan ada seorang pria yang berlagak seperti penumpang duduk di depan dan langsung memundurkan sadaran bangkunya hingga menjepit si korban yang berada pas dibelakangnya agar tidak bisa bergerak kemana pun. Akibat dari tindakan tersebut, penumpang yang jadi korban langsung ditodong pistol dan di paksa menyerahkan barang-barangnya. Kemudian, korban di ajak berkeliling sebelum akhirnya diturunkan di sebuah tempat.

Insiden lainnya yakni seorang penumpang laki-laki lain yang naik ke sebuah taksi di jalan Hagley Park menuju ke Half Way Tree. Dalam perjalanannya, korban merasakan hal yang sama seperti korban pertama. Namun korban kedua ini ditodong untuk memberikan uang, perhiasan dan pin ATM-nya.

Ini adalah modus baru dan tidak membuat penumpang curiga ataupun terluka sama sekali. Sebab, bila barang-barang yang diinginkan sudah di dapatkan biasanya korban diturunkan di jalan.

Baca juga: Banyak Kasus Pelecehan, Inikah Momen Taksi Online Perketat Penerimaan Pengemudi?

Satuan Kriminal di divisi polisi pusat St Andrew, Inspektur Colin Roberts mengatakan bahwa polisi memiliki beberapa pengetahuan terkait insiden tersebut. “Saya mendengarnya di pinggir jalan tetapi tidak bisa memastikan dalam laporan resmi,” ujarnya.

Roberts menambahkan, modus operandi ini adalah hal yang baru dan ia berpesan agar masyarakat menggunakan taksi resmi di bandingkan yang tidak resmi untuk mengurangi kriminal dengan modus perampokan seperti ini.

Baca juga: Oslo, Kota Dengan Tarif Taksi Termahal di Dunia, Jakarta Ada Diurutan Berapa Ya?

Sebenarnya, modus operandi seperti ini pernah terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu. Namun yang digunakan adalah taksi resmi yang dipalsukan oleh pelaku, dimana korban di todong untuk menyerahkan barang-barang yang dibawanya, kemudian korban diberikan uang Rp100 ribu untuk ongkos pulang dan diturunkan di tempat yang jauh dari keramaian dengan kondisi selamat tanpa luka sedikitpun.