Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!

Shanghai Transrapid yang menggunakan teknologi maglev. Sumber: railwaypro.com

Apa yang terbesit di benak Anda pertama kali ketika mendengar kata magnetic levitation (maglev)? Mungkin sebagian dari Anda langsung teringat akan moda futuristik Hyperloop yang lahir dari buah pemikiran entrepreneur kelahiran Pretoria, Afrika Selatan, Elon Musk. Berbeda dengan kereta api pada umumnya yang mengular di atas rel, kereta bertenaga maglev ini merupakan kereta yang mengambang secara magnetik. Lalu, bagaimmana cara kerja dari kereta levitasi magnetik ini?

Baca Juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, prinsip kerja yang utama dari kereta jenis ini adalah memanfaatkan gaya magnet untuk mengangkat rolling stock sehingga tidak menyentuh rel alias mengambang. Dengan begitu, gaya gesek yang semula dihasilkan antara rel dan roda kereta dapat dikurangi. Tidak hanya mengangkat, gaya magnet yang tercipta pun dimanfaatkan sebagai pendorong.

Dengan kecilnya gaya gesek dan besarnya gaya dorong, kereta ini mampu melaju hingga kecepatan 600 km per jam, jauh melebihi kecepatan yang dihasilkan oleh kereta biasa. Jika ditinjau dari segi keuntungan, utamanya adalah biaya pengoperasian yang lebih hemat. Ini dikarenakan oleh tidak adanya gaya gesek yang dihasilkan antara roda dan rel, sehingga diperkirakan tidak ada bagian yang aus.

Keuntungan lainnya ketika mengoperasikan kereta levitasi magnetik adalah tidak ada gaya resistansi (hambatan) yang dihasilkan akibat gesekan. Kendati demikian, gaya resistansi udara tentunya masih ada, maka tidak heran jika banyak perusahaan rolling stock yang tengah mengupayakan ‘kelahiran’ dari kereta maglev yang lebih aerodinamis.

Untuk kekurangannya terletak pada tingkat kebisingan yang dihasilkan, dimana sebuah studi melaporkan bahwa kereta maglev menghasilkan sekitar 5 dB (desibel) atau 78 persen lebih bising ketimbang kereta konvensional. Selain itu, mahalnya biaya investasi terutama pada pengadaan rel menjadi kelemahan kereta maglev yang lainnya.

Bagi Anda yang daritadi kebingungan akan definisi mengambang seperti yang sudah dijabarkan di atas, tentu saja kereta ini tidak seperti sebuah kapal laut yang mengambang di atas permukaan laut, hanyalah kurang lebih 10 mm dari atas rel. Gaya dorongnya sendiri dihasilkan melalui interaksi antara rel magnetik dengan mesin induksi yang juga menghasilkan medan magnetik di dalam kereta.

Baca Juga: HTT Siap Operasikan Hyperloop Pada 2020, Akankah Dubai Operasikan Dua Teknologi Maglev?

Diketahui, hingga saat ini tercantum beberapa negara yang tengah mengembangkan teknologi berbasis gaya magnetik ini, seperti Cina, Jepang, Perancis, Amerika, dan Jerman. Kendati namanya tidak tercantum sebagai salah satu pengembang kereta maglev, tapi tahukah Anda bahwa kereta yang menggunakan teknologi maglev pertama kali dikomersialkan di dekat Birmingham, Inggris pada tahun 1984 silam.

Teknolgi maglev Inggris ini dioperasikan di jalur monorail setinggi 600m antara Bandara Birmingham dan stasiun kereta api Birmingham International, dan mampu ‘melesat’ hingga kecepatan 42 km/jam.