Memasuki Usia 53 Tahun, Angkasa Pura I Kebut Pembangunan Enam Bandara

Enam bandara di Pulau Jawa, Kalimantan, Bali dan Sulawesi menjadi target utama pembangunan dan pengembangan PT Angkasa Pura I (Persero). Adanya pembangunan ini untuk meningkatkan level pelayanan bagi masyarakat pengguna moda transportasi udara (pesawat). Hal ini dikarenakan sekarang jumlah penumpang terus meningkat setiap tahunnya.

Untuk pembangunan dan pengembangan enam Bandara ini, AP I siap menggelpontorkan dana Rp54 triliun untuk mempercepat pembangunan keenam bandara ini. Dikutip dari situs ap1.co.id (25/2/2017), Direktur Utama AP I, Danang S Baskoro mengatakan, ada tiga bandara yang menjadi prioritas utama yaitu Kulonprogo di Yogyakarta, Semarang dan Banjarmasin. “Priorita kedua adalah Bandara di Bali, Makassar dan Surabaya,” ujarnya.
Diketahui, selama ini untuk pembangunan dan pengembangan bandara, AP I membutuhkan waktu tiga sampai empat tahun lamanya. Namun, dalam rangka ulang tahun ke-53 yang jatuh pada 20 Februari lalu, AP I mempercepat pengerjaan keenam bandara tersebut. Dengan kecepatan pembangunan yang bertambah, AP I menargetkan perolehan pendapatan pada 2017 sekitar Rp8 triliun dengan laba Rp1,2 triliun.

bandara-kulonprogo_1006

Saat ini selain mengelola 13 bandara di Wilayah Tengah dan Timur Indonesia, AP I juga mempunyai lima anak perusahaan dan semakin menekan aspek bisnis non-aeronautika. Lima anak perusahaan AP I yakni PT Angkasa Pura Logistik, PT Angkasa Pura Properti, PT Angkasa Pura Support, PT Angkasa Pura Hotel dan PT Angkasa Pura Retail.
Kelima anak perusahaan Angkasa Pura ini nantinya akan memegang penuh bisnis kedepannya. Danang mengatakan, dari target Rp8 triliun pendapatan, 45 persennya diharapkan berasal dari non-aeronautika. “Kalau bisa separuhnya lebih bagus,” jelas Danang.

Dari hal ini, Danang menilai, bahwa bisnis bandara dimanapun baik di Indonesia maupun di dunia, pastinya selalu memiliki dua segmen yakni penumpang dan maskapi. Ini dikarenakan antara penumpang dengan maskapai berkesinambungan. Ada penumpang, maskapai akan bergerak dan sebaliknya ada maskapai pasti ada penumpang. Bila keduanya tidak berkesinambungan, tak akan ada hasil dari bisnis bandara ini. Dari hal ini, pihak pengelola bandara tidak akan membebani maskapai dengan pembayaran yang serba mahal, seperti biaya parkir pesawat. Bisnis non-aeronautika seperti adanya areal komersial di bandara yang bisa disewakan untuk mendapatkan hasil yang lebih.