Marak Kejahatan Cyber, Startup dari Israel Kembangkan Sistem Keamanan Untuk Kereta Api

Sumber: globes.co.il

Perkembangan signifikan yang terjadi di dunia perkeretaapian global saat ini semakin mendekatkan diri kepada teknologi otomatisasi. Sebut saja Shinkansen di Jepang dan TGV di Perancis yang kerap kali dijadikan kiblat oleh negara lain yang hendak mengimplementasikan jaringan kereta cepat modern.

Walaupun terdengar sangat canggih karena mengedepankan nilai otomatisasi di hampir seluruh aspeknya, namun jangan kira kemajuan semacam ini tidak memiliki kelemahan. Salah satu ancaman yang paling mencolok di sektor otomatisasi yang saling terkoneksi dengan sistem adalah kejahatan cyber.

Baca Juga: Israel Bangun Jalur Keret Cepat Yerusalem – Tel Aviv, Mengular Mulai Maret 2018!

Bukan tidak mungkin lho seorang hacker mampu mengobrak-abrik sebuah sistem perkeretaapian yang pada ujungnya akan berimbas kepada para penumpang. Tidak menutup kemungkinan juga kekacauan sistem yang diakibatkan oleh hacker ini menimbulkan dampak yang lebih parah, yaitu kecelakaan antar moda otonom.

Sistem komunikasi menjadi salah satu ‘lubang’ yang paling sering mendapat ancaman. Kembai ke bulan Mei 2017, dimana sebuah serangan cyber berhasil menembus jaringan komunikasi perkeretaapian Jerman. Belum lagi empat serangan cyber yang menimpa jaringan operasi perkeretaapian Inggris pada tahun 2016 silam. Dua kasus di atas menjadi contoh sederhana betapa rentannya sistem ini diacak-acak oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globes.co.il (28/1/2018), sebuah startup asal Israel, Cylus, diketahui baru saja mengembangkan solusi perlindungan terhadap ancaman cyber yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi dunia perkeretaapian global. Tidak main-main, startup ini berhasil membuktikan diri kepada para investor untuk menyumbangkan sebagian dari dana perusahaannya, seperti Magma Venture Partners, Vertex Venture Capital, dan SBI Group of Japan.

“Pendekatan terhadap arsitektur jaringan kereta api sedikit unik, dimana jaringan tersebut tidak bisa disesuaikan dengan perlindungan cyber yang biasanya diterapkan pada sebuah organisasi,” ungkap CEO Cylus, Amir Levintal. “Kontrol terhadap kereta api dilakukan melalui wireless interface yang menggunakan teknologi GSM-R, seperti jaringan mobile phone yang canggih. Dengan bantuan interface seperti ini, informasi dapat dikirim dari pusat kendali ke kereta, dan informasi dapat diterima darinya,” tambahnya.

Amir mengatakan bahwa produk pengamanan cyber yang selama ini beredar di pasaran dinilai belum cocok untuk dipasangkan pada sistem jaringan perkeretaapian, dengan dalih sistem pengamanan tersebut tidak bisa ‘berbicara dalam bahasa kereta api’. “Komunikasi nirkabel yang selama ini menjadi ‘remote control’ kereta api menjadi sasaran empuk para hacker yang mencoba untuk mengontrol kereta dan membahayakan penumpang,” tutur Amir.

Baca Juga: Takut Data Pribadi Anda Diretas, Ini Dia Fakta dan Tips Untuk Mencegahnya!

Ia melanjutkan bahwa perkeretaapian global harus mengadopsi satu sistem khusus yang mampu memfasilitasi integritas antar komponen di kereta, lokomotif dan pusat kendali, hingga pusat kendali dengan perangkat lain di lapangan. Lebih lanjut, Amir mengatakan bahwa penggunaan perangkat keselamatan seperti firewall hanya akan mengganggu sistem komunikasi lebih jauh lagi.

“Produk yang tengah kami kembangkan ini sama sekali tidak melakukan intervensi terhadap lalu lintas di jaringan, kami hanya mampu untuk mendeteksi ancaman yang sewaktu-waktu dapat muncul.” Tutup Amir.