Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Jalur kereta komuter sudah lumrah hadir di beberapa daerah di Tanah Air, namun yang menjadi maskot dan barometer nasional adalah jalur KRL (Keret Rel Listrik) Jabodetabek yang dikelola olehPT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Banyak cerita yang menarik seputar KRL yang telah beroperasi sejak tahun 1976 ini, diantaranya ada fakta bahwa jalur rel KRL Jabodetabek hanya bisa digunakan oleh rangkaian kereta asal Jepang. Ini bukan terkait monopoli atas pengadaan dan lain-lain, melainkan menyangkut lebar rel yang urusannya berhubungan dengan sejarah panjang kereta api di Indonesia.

Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Dirunut dari sejarah, pada tahun 1864 Pemerintah Hindia Belanda memulai proyek untuk membangun lintasan kereta dari Jakarta ke Bogor (d/h Batavia ke Buitenborg). Dari sejak proyek dimulai, namun pembangunan jalur rel baru dimulai pada tahun 1869. Ada jeda implementasi selama lima tahun, apakah kucuran dana tersedat?

Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Dikutip KabarPenumpang.com dari buku “The Untold Story of E-Ticketing – Kisah di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek,” disebutkan bahwa jeda lima tahun dicurahkan hanya untuk mengkaji lebar rel (spoorwijdte). Awalnya lebar rel dirancang dan dipasang selebar 1.435, yakni jenis track standar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, sebagaimana dirancang oleh George Stephenson, Bapak Perkeretaapian Dunia. Lebar rel 1.435 mm pun sudah diterapkan di jalur kereta api Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Namun, Menteri Urusan Jajahan Belada De Wall pada 27 September 1869 justru memutuskan lebar rel mengadopsi standar 1.067 mm, atau dikenal sebagai track Afrika Selatan dan juga digunakan oleh Jepang.

Baca juga: Anda Mau “Survive” di Dalam Gerbong KRL? Yuk Ikuti Tipis Berikut Ini

Mengapa De Wall memutuskan penggunaan lebar rel 1.067 mm? Ini ternyata sudah melalui penelitian insinyur perkeretaapian JA Kool dan guru besar sekolah politeknik di Delft, NH Henket. Untuk jalur Jakarta – Bogor, bila tetap menggunakan lebar rel 1.435 mm, maka diperlukan dana 4 juta gulden, atau 68.259 gulden per kilometer. Namun dengan lebar rel 1.067 mm dapat dihemat 0,80 juta gulden, dengan total biaya hanya 3,19 juta gulden atau 43.600 per kilometer.

Baca juga: Mei 2017, Jumlah Penumpang KRL Jabodetabek Tembus 1 juta Per hari

Pada akhirnya, lintasan kereta Jakarta – Bogor resmi dioperasikan pada 31 Januari 1873. Dan sampai saat ini, lebar rel lintasan Jakarta – Bogor tetap 1.067 mm. Entah menjadi berkat atau sekaliknya, yang jelas lintasan KRL Jabodetabek hanya bisa dipasok KRL dari Jepang, negara yang sama-sama mengadopsi rel dengan lebar 1.067 mm. Seandainya dahulu yang diadopsi adalah standar lebar rel 1.435 mm, maka laju kereta bisa lebih tinggi, dan tak sulit bila nantinya ingin mentransformasikan penggunaan kereta cepat.