Komuter Paris Metro Adopsi Sistem Pengatur Suhu Lansiran Lembaga Antariksa

Paris Metro. Sumber: sewerfresh

Berjulukkan City of Lights, ternyata Paris tidak hanya terkenal dengan keindahan menara Eiffelnya saja, melainkan jaringan komuternya pun, Paris Metro, digalang-galang sebagai salah satu jaringan kereta bawah tanah terbaik di dunia. Selain mengedepankan aspek keamanan dan ketepatan waktu operasi, Paris Metro pun diketahui menjunjung tinggi nilai kenyamanan para penumpangnya. Nah, dalam rangka meningkatkan perihal kenyamanan tersebut, Paris Metro melengkapi setiap armadanya dengan teknologi pendingin terbaru yang dikembangkan oleh European Space Agency (ESA), lho!

Baca Juga: Ouigo, Kereta Cepat Bergaya TGV dengan Tarif Rendah

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman phys.org, pemasangan sistem pendingin ini dipercaya meningkatkan kenyamanan penumpang, karena sistem tersebut bekerja tanpa mengubah bagian kereta dan membebaskan lebih banyak ruang untuk digunakan penumpang.

Sistem pengatur suhu di jaringan kereta bawah tanah memang memiliki peran yang bisa dibilang vital semisal kereta mengalami masalah ketika berada di underground, sebut saja kereta mengalami masalah pada bagian kelistrikan. Jika hal ini terjadi dan tidak ada sistem pengatur suhu di dalamnya, maka suhu di dalam kabin penumpang akan meningkat secara drastis karena eksistensi dari berbagai alat pembangkit tenaga.

Alhasil, tidak membutuhkan waktu lama untuk ‘memanggang’ penumpang yang berada di dalamnya. Belum lagi terowongan bawah tanah yang akan meminimalisir udara segar dan kandungan oksigen di dalam kabin penumpang. Sayangnya, versi awal dari sistem pengatur suhu ruangan ini sendiri memiliki bentuk yang cukup besar, malah dalam pengoperasian, dan juga ringkih.

Hadirnya solusi pengatur suhu dari ESA ini seolah menjadi jawaban atas kekurangan dari sistem pengatur suhu yang sudah ada. Dengan menjadikan sirkulasi cairan sebagai basis dari teknologi ini, pihak dari ESA sendiri tidak menampik bahwa tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan sistem pengatur suhu ini adalah bagaimana cara mendapatkan air untuk disirkulasikan.

Baca Juga: Ada Gambar Penari Bali di Metro Caracas, Ada Apa Ya?

Para insinyur antariksa yang mengelola sistem ini kemudian menggunakan aksi kapiler yang dikombinasikan dengan teknologi penukar panas udara, sehingga sistem pengatur suhu tersebut dapat menggantikan peran dari kipas mekanis konvensional yang digunakan kereta Paris Metro. Jika sistem ini dapat meningkatkan kenyamanan penumpang yang berada dalam kondisi ‘darurat’, bukan tidak mungkin pihak ESA akan kebanjiran order dari penyedia jasa kereta bawah tanah lainnya.