KNKT: Guna Evaluasi Kinerja Pilot, Maskapai Dapat Menerima Data dari Black Box

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), bersama semua perwakilan maskapai melakukan focus group discussion (FGD) terkait masalah black box atau kotak hitam yang ada di pesawat. Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, black box merupakan alat yang digunakan untuk mencatat data selama penerbangan. Ia mengatakan biasanya black box terdiri dari 2 macam FDR (Flight Data Recorder) dan CVR (Cockpit Voice Recorder), satu untuk merekam data dan satu lagi untuk merekam pembicaraan pilot, co-pilot, kru dan dengan petugas di darat.

“Biasanya FDR dan CVR itu terletak di bagian belakang pesawat, tepatnya di bagian ekor. Satu ada di dapur pesawat satu lagi di bagian kargo atau bagasi bawah pesawat,” ujarnya saat ditemui sebelum mulai FGD.

Bila dalam sebuah pesawat ada dua black box, biasanya letaknya terpisah, agar saat terjadi kecelakaan keduanya tidak hancur bersamaan. Menurut Sorjanto, perbedaan tempat ini untuk memudahkan tim pencari, apalagi bila salah satunya rusak, satu diantaranya masih bisa di telaah untuk di baca.

Untuk besaran satu buah black box hanya sebesar kotak sepatu dan berwarna jingga/orange. Sayangnya data yang ada di black box hanya bisa tersimpan sedikit atau percakapan selama 2 jam terakhir penerbangan. Dalam penjelasan awal di FGD yang berlangsung, Soerjanto mengatakan, FDR adalah flight data monitoring yang berisi semua data penerbangan.

“Di FDR, kita bisa mendapat data cara pilot dari menerbangkan hingga mendaratkan pesawat, angle yang di ambil saat terbang, ketinggian penerbangan, benar tidaknya pilot menerbangkan pesawat dan lainnya. Data ini digunakan untuk mengetahui itu semua, dan pilot tidak bisa main-main lagi dalam menerbangkan pesawat,” jelasnya di Aula Gedung KNKT, Medan Merdeka Timur (21/32017).

Contoh seperti di Papua, pilot biasa melakukan short cut saat cuaca terang, padahal terkadang itu kabut dan menabrak gunung atau bukit didepannya hingga pesawat jatuh. Melalui FDR ini, Soerjanto menegaskan kedisiplinan bisa termonitor dan kecelakaan atau kesalahan yang dilakukan pilot bisa menurun.

Selain ketua KNKT beberapa narasumber dari KNKT bagian investigator, laboratorium dan KNKT Australia ikut ambil bagian dalam FGD ini. Ony S Wibowo salah seorang investigator KNKT mengatakan, data yang ada di FDR bisa diterima pihak maskapai bila ingin mengevaluasi kinerja para pilot. Nantinya data yang di ambil dari FDR akan diubah dalam bentuk excel baik angka maupun grafiknya.

“Jadi data ini tidak hanya sekedar informasi saja, ini bisa di analisis dan di ubah langsung ke excel,” ujar Ony.

Ony menambahkan, untuk FDR tipe CASR 91.233 untuk saat ini sudah tidak bisa digunakan lagi, dan diganti dengan model baru. Hal ini dikarenakan model CASR 91.233 masih menggunakan pita untuk merekam semua datanya. Menurutnya, dengan pita justru data yang ada saat terjadi kecelakaan bisa hilang dan hasil yang didapat justru data dari percakapan penerbangan beberapa bulan sebelum terjadi kecelakaan pada pesawat tersebut.

Perubahan ini juga sudah ditegaskan bahwa per 1 Januari 2018, FDR dan CVR dengan model CASR 91.233 tidak bisa digunakan lagi dan diganti dengan model terbaru.