Ketika Perusahaan Transportasi Penumpang ‘Terseret’ Lonjakan Arus E-Commerce

Sumber: theloadstar.co.uk

Kini jaman telah berubah, banyak orang yang lebih memilih berbelanja melalui online shop ketimbang harus pergi mengunjungi suatu toko. Berkembangnya sektor e-commerce dewasa ini ternyata memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tidak hanya sektor ekonomi saja yang mengalami pertumbuhan, bahkan beberapa perusahaan yang menggeluti bidang transportasi pun turut merasakan keuntungan dari meledaknya sektor e-commerce ini.

Baca Juga: Peran Kopilot, Tak Sekedar Memperingan Kerja Pilot

Sebut saja penyedia layanan jasa transportasi berbasis aplikasi, Gojek menjadi satu contoh yang paling mudah untuk dianalisis tentang hubungan meledaknya pasar e-commerce di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi di sektor penyedia layanan transportasi. Jika Anda berbelanja melalui toko online yang kebetulan satu kota dengan Anda, Anda bisa meminta sang penjual untuk mengirimkan barangnya via Gojek, ketimbang dikirim melalui jasa pengiriman. Pembeli dapat dengan cepat menerima barangnya, dan Gojek pun turut mendapatkan keuntungan.

Lalu, bagaimana dengan penyedia jasa layanan transportasi yang dikhususkan untuk mengantar penumpang yang beralih menjadi angkutan kargo? Sebut saja PO (Perusahaan Otobus) Lorena yang semula melayani jasa angkut penumpang, kini melebarkan sayapnya menjadi pengantar kargo setelah menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan e-commerce, kargo.co.id. “Kami bekerja sama dengan Eka Sari Lorena untuk melakukan pengiriman barang yang beratnya melebihi 30 kg, seperti motor dan lain-lain,” ungkap Yodi, CEO Kargo.co.id ditemui KabarPenumpang.com dalam acara Indonesia Transport, Logistic & Maritime Week 2017, Kamis (12/10/2017).

Terlepas dari itu semua, PT. KAI juga memiliki satu layanan khusus untuk mengantarkan kargo, yaitu Kereta Api Logistics (KALog). Perusahaan dibawah induk PT. KAI ini juga melayani cakupan bisnis “door to door” (DTD) service yang akan memudahkan seseorang untuk mengirim atau menerima kiriman. Namun, siapa sangka bahwa KALog ini bisa memberikan pengaruh signifikan pada pendapatan PT. KAI. Kereta penumpang yang sejatinya kita gunakan selama ini berkontribusi sebesar Rp2,06 triliun atau naik 24 persen ketimbang periode yang sama 2016.

Sedangkan KALog menyumbang pendapatan sebesar Rp1,75 Triliun atau naik 18% dari periode yang sama tahun lalu. Walaupun namanya jarang terdengar bahkan terkesan surut, tapi layanan pengantaran barang ini memberikan sebuah prospek yang cukup menjanjikan. Tidak heran jika beberapa perusahaan yang semula hanya mengangkut penumpang saja, kini mulai merambah bisnis antar mengantar logistik.

Baca Juga: Dari London, Kereta Kargo East Wind Sampai di Yiwu Setelah 19 Hari!

Begitupun dengan moda laut, walaupun selama musim mudik beberapa media menyorot padatnya penumpang di Pelabuhan Merak, namun pendapatan yang mereka kumpulkan dari penumpang orang tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka raup dari menyeberangkan kendaraan-kendaraan besar, seperti truk, bus dan lain-lain. Wajar saja, tiket menyeberangkan satu orang jauh lebih murah ketimbang menyeberangkan satu kendaraan besar.

Lain cerita dengan moda udara, dimana beberapa maskapai bonafit sengaja menyediakan armada khusus untuk mengirimkan barang. Sebut saja Emirates SkyCargo, maskapai penerbangan kargo yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab yang mulai beroperasi pada 25 Oktober 1985. Adapun salah satu pesawat yang digunakan oleh Emirater SkyCargo adalah Boeing 747-400F, dengan beban angkut maksimal 117.000 kg yang kini dioperasikan oleh Atlas Air dan TNT Airways.