Kendati Futuristik, Sistem Pengereman Otomatis Masih Terbilang Prematur!

Ilustrasi Sistem Pengereman Otomatis. Sumber: istimewa

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa rem merupakan salah satu intrumen vital yang ada di setiap kendaraan. Sedikit saja terjadi malfungsi, maka keselamatan pengemudi dan penumpang yang berada di dalam kendaraan tersebut akan terancam.

Di Jepang, sebuah laporan menyebutkan bahwa sebanyak 82 kasus kecelakaan yang terjadi pada periode tahun 2017 diakibatkan oleh malfungsi rem otomatis. Angka tersebut tentu saja tidak bisa dipandang remeh karena jika tidak ditindaklanjuti, maka tidak menutup kemungkinan insiden semacam ini akan terus berulang.

Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan, London Uji Coba Sistem Rem Otonom Pada Bus Umum

KabarPenumpang.com mengutip dari laman japantimes.co.jp (3/7/2018), mengingat banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi akibat malfungsi sistem pengereman otomatis ini, Kementerian Perhubungan sampai-sampai mengumpulkan data sendiri. Tercatat ada 320 laporan masuk yang berkaitan dengan malfungsi sistem pengereman tersebut selama tahun 2017.

Dari 320 kasus tersebut, pihak kementerian memusatkan perhatian terhadap 88 kasus yang menyatakan bahwa sistem pengereman tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan 249 kasus lainnya berisikan keluhan tentang sistem rem yang aktif secara tidak terduga. Ada satu anomali unik di sini, dimana otoritas berwajib di Jepang sebelumnya telah mendorong setiap mobil penumpang untuk memasang sistem pengereman otomatis.

Namun sayangnya sistem tersebut masih terlalu prematur untuk diterapkan pada kendaraan pribadi di Jepang sana. Masih diperlukannya serangkaian pengembangan membuat sistem pengereman otomatis ini berdampak buruk terhadap penggunanya. “Sistem pengereman otomatis tersebut terpasang pada 66,2 persen mobil penumpang yang diproduksi pada tahun 2016,” tutur pihak kementerian. “Angka tersebut naik 4,3 persen ketimbang tahun 2012,” tandasnya.

Sekedar informasi, sistem pengereman otomatis ini menggunakan teknologi radar yang akan mendeteksi dan memantau kondisi di depan kendaraan. Tidak hanya itu, inovasi ini juga akan memberitahu pengemudi semisal ada ancaman tabrakan atau halangan lain sebelum sistem secara otomatis mengurangi laju kendaraan dan melakukan pengereman.

Baca Juga: 10 Poin Penting Sistem Keselamatan di Bus

Pada bulan April lalu, pihak kementerian merilis sebuah video yang menayangkan bahwa sistem canggih ini belum bisa sepenuhnya diaplikasikan dalam semua kondisi. Sebut saja ketika turun hujan, pencahayaan yang kurang, turunnya kabut, atau serangkaian gangguan lain yang menghambat daya pantau radar. “Bahkan sistem pengereman otomatis ini tidak berfungsi sempurna ketika kendaraan tengah melaju dengan kecepatan tinggi.” tutup pihak kementerian.