Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang

Sumber: japantimes.co.jp

Kasus pelecehan seksual yang terjadi di moda transportasi massal memang sempat menggelayuti headline sejumlah media lokal belakangan ini. Para pelaku tindak asusila ini biasanya memanfaatkan momen kepadatan penumpang yang terjadi ketika peak hours. Ternyata, kasus seperti ini tidak hanya terjadi di dalam negeri. Para komuter wanita di Jepang pun turut menjadi korban dari aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pria hidung belang ini.

Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Dalam laporan yang berhasil dirangkum KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (21/4/2018), Departemen Kepolisian Metropolitan Jepang menunjukkan bahwa 1.750 kasus ‘meraba-raba’ atau penganiayaan dilaporkan pada tahun 2017, dimana 30 persen terjadi antara pukul tujuh dan sembilan pagi selama peak hours. Dari angka tersebut, lebih dari 50 persen kasus tersebut terjadi di dalam rangkaian kereta, sementara 20 persen lainnya terjadi di stasiun.

Adapun rentang usia korban pelecehan ini sangatlah jauh, yakni dari umur 10 hingga 50 tahun. Tepatnya, 0,4 persen korban dalam laporan tersebut berada di bawah usia 10 tahun, diikuti oleh 28,3 persen remaja, 42,6 persen dari korban di usia 20-an, 11,3 persen di usia 30-an, 3,3 persen di usia 40-an, 1 persen di usia 50-an dan 13,1 persen sisanya tidak diketahui.

Sampai-sampai, warga Jepang menambahkan kata ‘Chikan’ ke dalam kamus mereka, yang berarti seseorang yang melakukan tindakan pelecehan publik secara terus-menerus, seperti meraba-raba dan tindakan lainnya yang masuk ke dalam kategori pelecehan seksual. Uniknya lagi, istilah Chikan ini sendiri sudah diakui secara internasional.

Baca Juga: Gagal Kencani Wanita di Toilet Stasiun, Pria ini Malah Mendekap di Balik Jeruji Besi

Guna menekan angka pelecehan ini, beragam kampanye melalui media sosial pun digalakkan. Fungsinya, untuk mendorong para korban membuka mulut tentang pengalaman burukyang pernah mereka alami.

Terlepas dari aksi kampanye yang dilakukan di luaran sana, Pemerintah Inggris yant juga turut memperhatikan perkembangan kasus ini menyarankan kepada para korban pelecehan ini untuk, “berteriak pada pelaku untuk menarik perhatian dan meminta sesama penumpang untuk memanggil staf keamanan kereta,”