IATA: Cermati Keterlibatan Swasta dalam Investasi Pembangunan Bandara

ilustrasi antrian penumpang di bandara. Sumber: v-count.com

Meningkatnya pertumbuhan penumpang pada perjalanan internasional membuat pemerintah perlu mengatasi segera krisis kapasitas pada bandara. International Air Transport Association (IATA) pada Senin (4/6/2018) kemarin, memperingatkan industri penerbangan agar berhati-hati dengan keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan bandara atau terminal baru.

Baca juga: Pasar LCC Meningkat, Bandara Internasional Narita Siap ‘Upgrade’ Kapasitas Terminal 3

Dilansir KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com (4/6/2018), diproyeksikan, peningkatan penumpang akan menjadi dua kali lipat hingga 7,8 miliar penumpang pada tahun 2036 mendatang. Dengan peningkatan tersebut, maka infrastruktur bandara dan sistem kontrol lalu lintas yang ada sekarang tidak akan sebanding dengan peningkatan jumlah penumpang.

Meski begitu, bandara juga terus berusaha untuk mengatasi krisis kapasitas tersebut dengan mengelola slot dan memberikan maskapai penerbangan hak operasi tertentu pada waktu tertentu. Namun, ketua IATA, Alexander de Juniac mengatakan, dengan peningkatan tersebut pemerintah bisa menambah bandara baru atau peningkatan kapasitas di bandara lama melalui penambahan terminal baru.

“Kami berada dalam krisis kapasitas. Dan kami tidak melihat investasi infrastruktur bandara yang cukup untuk menyelesaikannya. Apalagi banyak pemerintah yang kekurangan modal untuk menambah kapasitas bandara dengan meminta bantuan ke perusahaan swasta,” ujar Juniac.

Dengan keterlibatan pihak swasta selaku investor, Juniac memperingatkan pada bandara yang diprivatisasi, bahwa beberapa bandara kemudian tidak memenuhi harapan maskapai penerbangan dengan banyak operator yang mengalami pengalaman pahit.

“Wisatawan juga merasakan masalahnya. Menurut (sistem penilaian global) Skytrax, lima dari enam bandara yang disukai wisatawan adalah ruang publik. Bandara yang diprivatisasi pasti lebih mahal. Tapi ada sedikit perbedaan dalam efisiensi atau tingkat investasi dibandingkan dengan bandara di tangan publik,” jelasnya.

Baca juga: ‘Diramalkan’ Meningkat Pada 2025, Bandara Soetta Tingkatkan Angka Pergerakan Pesawat

IATA memproyeksikan trafik penumpang udara global naik sebesar 6,5 persen tahun 2018 ini menjadi 4,36 miliar. Ini setelah kenaikan masing-masing 7 dan 7,3 persen pada 2016 dan 2017 lalu.

IATA sendiri mewakili 280 maskapai penerbangan dan akan mempertimbangkan resolusi tentang privatisasi infrastruktur kepada pemerintah untuk faktor pemanfaatan ekonomi dan sosial dalam jangka panjang saat mengoperasikan terminal baru. Resolusi ini juga menyerukan saran regulasi yang lebih baik dalam mengatur bandara yang privatisasi guna melindungi kepentingan konsumen.