Hadirkan Trem Listrik, Walikota Surabaya: “Tahun Depan Bisa Lebih Mahal”

Sumber: thejakartapost.com

Pemerintah Surabaya melalui walikotanya, Tri Rismaharini memutuskan untuk kembali menggenjot rencana pengadaan trem bertenaga listrik. Rencana tersebut akan masuk ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN) tahun 2017 ini. Mulai padatnya kendaraan di kota Surabaya membuat pemerintah mengambil langkah untuk menambah sarana transportasi publik, dengan harapan agar warganya dapat meninggalkan kendaraan pribadi dan mulai menggunakan transportasi publik yang sudah disediakan.

Baca Juga: Tak Terasa Sudah 150 Tahun Sistem Perkeretaapian Belanda di Indonesia

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman TheJakartaPost.com (9/6/2017), pemerintah pusat setuju untuk mengalokasikan dana sebesar Rp2,7 triliun dari Obligasi Syariah Negara dan sukuk untuk mendanai proyek tersebut. Diketahui, proyek ini ditargetkan selesai pada tahun 2019 mendatang. “Kementerian Perhubungan mengatakan dalam pertemuan tersebut bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana sebesar Rp100 miliar dari APBN tahun ini untuk trem listrik Surabaya,” Pungkas Walikota yang akrab disapa Risma tersebut. “Tahun depan anggaran akan jauh lebih besar dari itu,” tambahnya singkat.

Tidak main-main, otoritas setempat mulai bergerak dalam mewujudkan pengadaan transportasi baru tersebut. Diketahui, sejumlah bangunan yang dianggap menghalangi jalur dari trem tersebut mulai dihancurkan menggunakan alat berat. Pundi-pundi rupiah pun mulai dikocorkan pemerintah sebagai dana kompensasi untuk warga yang tempat tinggalnya terusik akibat penggusuran lahan ini.

Pemerintah sepakat untuk memulai proyek ini di jalur Utara/Selatan terlebih dahulu. Rencananya, pembangunan ini akan dimulai dari Jl. Tunjungan menuju Stasiun Joyoboyo, dimana kedua titik tersebut terpisah jarak kurang lebih sejauh 11,4 km. Nantinya, Stasiun Joyoboyo akan pula dijadikan sebagai depot bagi 25 trem listrik yang akan beroperasi di jalur ini. Sementara itu, tahap kedua administrasi akan memulai proyek dari jl. Tunjungan menuju Jembatan Merah yang terbentang sejauh 6,8 km.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Lebih lanjut, Risma mengaku akan berkoordinasi dengan pihak PT KAI untuk menghidupkan kembali pengoperasian Stasiun Joyoboyo. Tidak hanya dengan PT KAI, Risma juga akan berkoordinasi dengan Dewan Legislatif Surabaya untuk memutuskan tarif trem dan subsidi pemerintah.

Seperti yang diketahui sebelumnya, rencana pembangunan trem ini sudah ada sejak lama. Pada Desember tahun lalu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan pembangunan trem ini sudah tidak bisa ditunda lagi. Budi juga mengaku proyek ini bisa segera dijalankan tanpa harus menunggu Perpres. “”Tak perlu Perpres untuk Pembangunan Trem. Nanti akan dilelang terbuka,” tutur Budi. Ia juga mengaku optimis kehadiran trem listrik di Surabaya dapat memecah kemacetan yang semakin mengular. “Di Eropa masih menggunakan trem. Mudah-mudahan Surabaya menjadi percontohan angkutan massal Trem.” Tutupnya dilansir dari sumber terpisah.