Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Pada bulan Juni 2017 sistem Autonomous Rail Rapid Transit (ART) resmi dikembangkan oleh Cina dan digunakan pada kereta tanpa kabel listrik dan rel. Sistem transportasi futuristik ini menggunakan jalur rel virtual dan sudah melakukan uji cobanya di jalan raya daerah Zhuzhou di Provinsi Hunan.

Baca juga: AS Ikuti Cina Gunakan Teknologi Rel Virtual dalam Autonomous Rail Transit

KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (30/10/2017), kereta yang berjalan di rel virtual ini memiliki kecepatan maksimum 70 km per jam dan mampu menampung 300 penumpang di tiga gerbongnya. Adanya ART nantinya akan mempercepat transportasi umum di Zhuzhou sebelum dikembangkan di kota lainnya di Cina.

Utuk pembuatan ART ini biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dibandingkan dengan kereta bawah tanah biasanya dan hanya menghabiskan biaya sekitar 400 juta Yuan sampai 700 juta Yuan per kilometernya di Cina atau sekitar US$82 juta. Ini memang sedikit lebih mahal dari trem listrik yang menghabiskan 150 juta sampai 200 juta Yuan per kilometernya.

ART sendiri hanya sekitar seperlima dari investasi kereta api di Cina dan akan mulai resmi diluncurkan pada tahun 2018. Sistem ini juga diadopsi oleh Amerika Serikat tepatnya di Milwaukee County. DI AS, ART dibangun untuk menghubungkan perkantoran, sekolah dan tempat hiburan sepajang 14 km yang melalui pusat kota Wilwaukee, Near West Side dan Wauwatos. Dalam pembangunannya kereta ini akan berjalan di atas ban bukan di atas rel logam.

Ini dikarenakan ada kemunginanan aspek bus tanpa awak dianggap tidak praktis. Kemungkinan, ART yang ada di Cina dan Amerika Serikat akan berjalan bersamaan tahun 2018 mendatang, sebab keduanya menggunakan sistem yang dikembangkan oleh Chіnа Railway Rоlling Stоck Cоrp (CRRC).

Baca juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil

ART bergerak menggunakan sensor hi-tech untuk mengumpulkan informasi perjalanan dan mengidentifikasi trotoar yang ada di jalanan. ART diklaim akan menggunakan tenaga baterai yang bebas dari polusi.

Kereta tersebut diketahui mampu menempuh jarak sekitar 25,7 km setelah baterai terisi selama 10 menit. ART memiliki lebar 3,75 meter dan akan berjalan di jalur garis putus-putus. Opersional ART disebut-sebut mampu beroperasi hingga 25 tahun.

Sistem ART yang menggunakan rel virtual terlihat banyak menghemat dalam hal investasi infrastruktur, namun beberpa pengamat transportasi menyebut sistem rel virtual agak rentan dalam hal keamanan, yaitu rel virtual yang tak ubahnya adalah jalanan aspal biasa tak memberikan jalur eksklusif untuk moda angkut massa ini. Artinya jalur ART sangat rentan diserobot oleh kendaraan lain. Jika sudah begitu, rasanya ART kurang ideal diterapkan di Jakarta. Bagaimana menurut Anda?