Deutsche Bahn Adopsi Lampu LED ‘Luminous’ di Peron, Mudahkan Akses Penumpang Turun dari Kereta

Sumber: railway-technology.com

Implementasi berbagai jenis peron di dunia perkeretaapian membuat para petugas di dalam ular besi harus memberi tahu para penumpang tentang pintu sebelah mana yang akan terbuka. Ambil contoh seperti di KRL Jabodetabek, dimana petugas akan mengumumkan pintu sebelah mana yang akan terbuka di pemberhentian selanjutnya. Semata-mata, tindakan ini dilakukan supaya penumpukkan penumpang yang terjadi di dalam kereta ketika tiba di satu stasiun dapat diminimalisir.

Baca Juga: Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train

Nah, sehubungan dengan hal tersebut, di Jerman, pengumuman pintu mana yang akan terbuka juga diketahui oleh penumpang yang hendak naik kereta lho! Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (8/3/2018), operator kereta di Negeri Bavaria, Deutsche Bahn (BD) meluncurkan sistem pencahayaan peron terbaru yang dapat menunjukkan darimana penumpang dapat masuk ke dalam kereta. Bisa dibilang, sistem seperti ini merupakan yang pertama di Jerman.

Pada awal Maret 2018 kemarin, DB meluncurkan sistem pencahayaan baru ini di Stasiun Bad-Cannstatt, Stuttgart, Jerman. Sebanyak 670 lempengan beton yang dilengkapi dengan lebih dari 2.000 lampu LED dipasang di peron sepanjang 210 meter, dimana peron tersebut melayani tiga jalur S-Bahn di kota itu. Kurang lebih dua menit sebelum kereta sampai di stasiun tersebut, lampu LED yang terpasang di peron akan menyala dan membentuk simbol yang menunjukkan di mana pintu kereta dapat diakses oleh para penumpang.

Guna melancarkan proyek percontohan enam bulan ini, DB menggaet SIUT, perusahaan asal Berlin yang akan menyediakan beton ringan sebagai ‘rumah’ dari lampu-lampu LED tersebut, dan OpenCapacity, sebuah perusahaan teknologi asal Inggris yang akan mengembangkan solusi untuk mengukur hunian gerbong kereta individu.

Dalam mengembangkan sistem ini, DB mengatakan bahwa pihaknya akan menyertakan sistem pengukuran beban pada tiga armada yang diuji coba. Nantinya, alat pengukur berat  tersebut akan mengirimkan sinyal kepada sistem lampu peron dan secara otomatis, lampu peron akan menyala yang mengindikasikan bahwa di situlah peluang tertinggi para penumpang untuk bisa mendapatkan tempat duduk.

“Dengan mengukur utilisasi di kereta dengan menggunakan sinyal WLAN, kamera dan beban gandar, sistem lampu peron ini akan menampilkan kapasitas masing-masing gerbong sebelum rangkaian kereta tiba di stasiun,” ungkap pendiri SIUT, Jörn Reinhold. “Lampu akan berkelip dalam berbagai warna, dimana masing-masing warna mengindikasikan kapasitas penumpang yang berbeda-beda di setiap gerbongnya,” imbuhnya.

Baca Juga: Berlin-Munich Kini Hanya Empat Jam dengan Intercity-Express Sprinter

Hadirnya sistem seperti ini semata-mata untuk meningkatkan kenyamanan kepada para penumpang yang hendak menggunakan layanan S-Bahn. Diharapkan, sistem lampu peron ini dapat meredakan sejumlah keterlambatan kereta yang kerap terjadi dan mampu untuk membantu penumpang menemukan tempat duduknya di dalam kereta. Keren, ya!