Demi Efisiensi Grup, SilkAir Besar Kemungkinan Dilebur Ke Singapore Airlines

SilkAir, maskapai penyedia penerbangan regional yang berbasis di Changi, statusnya adalah maskapai yang berada di bawah manajemen Singapore Airlines Group. Tetapi uniknya SilkAir maupun Singapore Airlines saat ini masih harus terpisah, alias belum bisa bersatu dengan penuh. Hal ini disampaikan Chief Executive SilkAir Foo Chai Woo.

“Kami masih melihat manfaat untuk mempertahankan operasi terpisah dengan nama SilkAir,” ujar Foo yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (4/10/2017). Dengan pernyataan tersebut, membuat para analis percaya bahwa penggabungan dua maskapai premium ini hanya masalah waktu. Menurut mereka, jika keduanya bergabung harus ada perbaikan terkait operasionalnya agar bisa bersaing lebih efektif di pasar penerbangan.

Baca juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru

“Kami tentu melihat permintaan produk, Boeing 737 Max 8 memberi kita kesempatan besar untuk berbuat lebih banyak. Max 8 menempatkan kita pada posisi yang lebih kuat untuk bersaing dan menawarkan proposisi nilai yang lebih baik,” kata Foo.

SilkAir yang menjadi maskapai layanan penuh (full service) sebenarnya berada di bawah naungan Singapore Airlines yang terbang di Asia. Grup maskapai ini juga menjadi induk masakapai penerbangan berbiaya rendah yakni Scoot.

Kabar yang beredar di dunia penerbangan menyebut bahwa bahwa SilkAir akan diintegrasikan ke Singapore Airlines untuk meningkatkan efisiensi. Juli 2017 lalu, Scoot yang berada di bawah SIA bersatu dengan Tigerair untuk merampingkan operasi di penerbangan.

“Penggabungan SilkAir dengan Singapore Airlines terasa masuk akal, ini akan menghasilkan efisiensi dan memastikan produk yang konsisten pada layanan akhir. Mereka telah mengejar integrasi yang lebih erat dalam beberapa tahun terakhir, dan saya pikir pasti mereka akan melihat penggabungan keduanya sepenuhnya,” menurut Brendan Sobie, Chief analis dengan penerbangan think tank CAPA.

CEO Crucial Perspective, Corrine Pgn mengatakan, saat ini struktur biaya operasional SilkAir 71 persen lebih tinggi, tetapi layanannya cenderung kurang mencapai bisnis utama. “Singapore Airlines Group hanya akan menyimpan dua merek, satu maskapai penerbangan premium dan satu maskapai penerbangan biaya rendah,” kata Png.

Baca juga: Rajai Pasar Low Cost Carrier, Tigerair Kini Satu Naungan Dengan Scoot

“Kami tidak akan meninggalkan batu pada tempatnya,” kata kepala eksekutif kelompok tersebut, Goh Choon Phong. Pendapatan luar negeri untuk SilkAir dan Singapore Airlines telah digabungkan awal tahun ini. Tapi, kata Nicholas Ionides, wakil presiden Singapore Airlines untuk urusan publik, “Tidak ada langkah pararel antara Singapore Airlines dan SilkAir, seperti halnya merger baru-baru ini antara Scoot dan Tigerair.”