Dampak Grab Akuisisi Uber, Tarif di Filipina Melonjak Hampir 50 Persen

Sumber: GrabSingapore

Uber mundur di dunia aplikasi ride sharing Asia Tenggara. Mundurnya Uber dan bergabung dengan Grab dikeluhkan oleh para pengguna aplikasi ride sharing tersebut. Pasalnya, pengguna mengatakan, tarif menjadi lebih tinggi dari biasanya sebelum Uber hilang dari dunia ride sharing.

Baca juga: Diakuisisi Grab, CEO Uber: “Ini Taktik Untuk Tingkatkan Profit”

Namun, perusahaan jaringan transportasi atau The transport network company (TNC) tersebut menekankan bahwa itu tidak mengambil keuntungan dari situasi dan menjelaskan bahwa tarif mereka masih dalam batas yang disetujui oleh pemerintah. KabarPenumpang.com melansir dari laman inquirer.net (17/4/2018), bahwa kenaikan tarif Grab pada jam sibuk di Filipina pada Senin (16/4/2018) pagi sangat mengejutkan banyak pengguna yang terpaksa mencari transportasi lain. Joyce Yu salah satu pengguna akhirnya memilih bus dari North Avenue ke Ortigas karena Grab mengenakan tarif P450 atau sekitar Rp118 ribu untuk perjalanan saat itu, yang biasanya hanya P250 atau Rp66rb.

Beberapa warganet yang menggunakan Twitter menuliskan kekecewaan mereka atas tarif Grab yang tinggi berkisar P300 hingga P600 atau Rp79 ribu sampai Rp158 ribu. Contohnya seperti perjalanan yang menempuh jarak 6,5 km dari Makati ke Manila pada pukul 08.00 pagi waktu setempat membuat tarif melambung hampir P300 yang biasanya hanya P150.

Pada Minggu lalu, the Land Transportation Franchising and Regulatory Board (LTFRB) meminta Grab untuk segera menurunkan batas harga dari dua kali tarif reguler menjadi hanya 1,5 kali saat memproses TNC baru yang akan menggantikan Uber. Manager Komunikasi Grab Filipina, Fiona Nicolas mengatakan, sementara mereka telah menerapkan laju lonjakan baru yang dikenakan oleh LTFRB dan tarif mungkin tetap tinggi karena terbatasnya jumlah pengemudi.

“Onboarding untuk TNVS (transport network vehicle services) belum mencapai 100 persen, sementara sebagian besar, penumpang Uber sudah mengunduh aplikasi Grab. Transfer pengemudi dari Uber ke Grab masih berlangsung,” ujar Fiona.

Kepala Bagian Grab Filipina, Brian Cu sebelumnya telah menjelaskan, bahwa sementara ada peningkatan hingga 70 persen dalam pemesanan penumpang mereka dan pengemudi yang ada hanya bertambah sekitar 30 persen saat ini.

Uber sendiri diketahui sudah mengofflinekan aplikasinya di Filipina setelah Grab mengakuisisi operasi di Asia Tenggara pada 25 Maret 2018 lalu. Langkah Uber sendiri sesuai dengan instruksi LTFRB agar berhenti sebagai TNC mulai 16 April 2018 kemarin, meskipun ada perintah dari Philippine Competition Commission untuk melayani publik sambil menunggu peninjauan kembali kesepakatannya dengan Grab.

Untuk melindungi masyarakat dari kenaikan tarif Grab, the National Center for Commuter Safety and Protection (NCCSP) meminta LTFRB untuk mempercepat akreditasi TNC baru Lag Go, Hype dan Owto.

Baca juga: Hadirkan Layanan Sepeda Listrik di Negeri Paman Sam, Uber Akuisisi JUMP

“Ini adalah kewajiban pada LTFRB untuk menyetujui aplikasi ini. Kami berpikir bahwa LTFRB harus cepat sehingga akan ada persaingan,” kata kepala NCCSP, Maricor Akol.

Pada saat yang sama, LTFRB meminta publik untuk melaporkannya kepada pengemudi Grab yang pemilih, termasuk mereka yang memaksa penumpang untuk membatalkan pemesanan mereka. Dikatakan bahwa menunjukkan perintah penyebab akan dikeluarkan terhadap driver ini yang harus menjelaskan mengapa waralaba mereka untuk beroperasi tidak boleh dicabut.

Kejadian ini juga terjadi di Indonesia, seorang penumpang yang berangkat dari sekitaran Cilandak menuju Bandara Halim Perdanakusuma yang awalnya di aplikasi hanya Rp48 ribu, namun saat tiba menjadi Rp69 ribu. Beberapa pengemudi Grab car baik Jakarta maupun luar Jakarta mengatakan, hingga saat ini belum merasakan dampak akuisisi Grab pada Uber tersebut.