Cormorant, Satu-Satunya Unmanned Aerial Vehichle yang Diakui NATO

Sumber: newatlas.com

Ketika sektor transportasi udara mulai dijejali dengan sejumlah rencana pengadaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), sebuah perusahaan asal Israel, Tactical Robotics hadir dengan sentuhan yang berbeda. Cormorant, begitulah nama dari pesawat Vertical Takeoff and Landing (VTOL) ini diketahui mampu terbang dengan dua mode: mandiri dan dikendalikan dari jarak jauh. Tentu saja fitur semacam ini menjadi pusat perhatian tersendiri bagi para peminatnya.

Baca Juga: Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (24/5/2018), pihak Tactical Robotics sesumbar armadanya ini mampu mengirim pasukan penumpang sipil dan kargo menuju tempat yang tidak bisa dijangkau oleh helikopter. Hadirnya bilah rotor internal pada lambung moda ini memungkinkan Cormorant terbang secara vertikal, dan baling-baling yang ada di bagian belakang moda ini mampu memberikan dorongan agar bisa melaju secara horizontal.

Jika dilihat dari keseluruhan, tampaknya Cormorant UAV tidaklah ditujukan untuk sektor transportasi berbasis aplikasi seperti Uber yang tengah bersaing memenangkan ceruk pasar, melainkan untuk dunia militer. Namun bukan tidak mungkin moda nirawak ini diminati oleh para penyedia jasa layanan transportasi.

Pada 7 Mei 2018, Megiddo Airfield yang terletak di Israel sebelah Utara menjadi saksi dari uji coba Cormorant UAV terhadap Israel Defense Forces. Pasukan pertahanan tersebut diketahui sebagai pelanggan utama dari bengkel Tactical Robotics.

Demo itu sendiri dimulai dengan Cormorant UAV yang mengangkut kargo menuju titik pengiriman yang sudah ditentukan sebelumnya. Sesampainya di tujuan, pihak Tactical Robotics pun menurunkan kargo dan menggantinya dengan medical training mannequin yang disimulasikan sebagai korban jiwa. Tujuan dari Cormorant UAV adalah membawa manekin ini kembali ke titik pemberangkatan awal.

Dalam perjalanannya menuju titik pemberangkatan awal, sistem onboard memungkinkan terjalinnya komunikasi dengan menggunakan video secara dua arah antara pihak penanganan darat dan kru yang ada di dalam moda tersebut. Tentu saja hadirnya sistem komunikasi tersebut menjadi nilai plus bagi Cormorant UAV.

Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Walaupun segi loading kargo dan korban ke dalam moda masih mengandalkan tenaga manusia, namun pihak perusahaan mengatakan, “Cormorant merupakan satu-satunya UAV yang diakui oleh NATO dimana mereka memenuhi kriteria pengiriman kargo dan skenario CasEvac (Casualty Evacuation).”