Berlin-Munich Kini Hanya Empat Jam dengan Intercity-Express Sprinter

Sumber: raileurope.com

Walaupun dalam usahanya untuk mengadakan moda transportasi baru tidak melulu berjalan mulus karena banyak menuai pro dan kontra, namun di balik itu semua ada satu poin penting yang patut digarisbawahi, yaitu pemerintah dan segenap perusahaan terkait memiliki tujuan untuk mensejahterakan warganya.

Sama halnya dengan yang terjadi di Jerman, dimana proyek kereta Intercity-Express (ICE) yang menghubungkan dua kota besar di Jerman, yaitu Berlin dan Munich siap beroperasi pada 10 Desember 2017 mendatang, walaupun sebelumnya proyek tersebut menuai banyak kontroversi.

Baca Juga: Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dw.com (7/12/2017), kehadiran VDE8, nama proyek ini, akan memperpendek jarak 505 kilometer yang membentang diantara dua kota tersebut menjadi kurang dari empat jam saja, dengan batas kecepatan maksimum hingga 250 km/jam. Operator Deutsche Bahn berharap agar perkeretaapian bisa lebih atraktif untuk menarik minat para penumpang, sehingga mereka tidak melulu bertumpu pada penerbangan murah atau bus jarak jauh. Saat ini, perkeretaapian di Jerman memiliki pangsa pasar sekitar 20 persen pada rute ini, dan Deutsche Bahn ingin meningkatkannya menjadi 50 persen.

Lebih dari 300 sepur dan 170 jembatan sudah dibangun guna menunjang kelengkapan dari pengoperasian kereta ini kelak, bahkan, setengah dari rute yang dilalui oleh kereta VDE8 ini berada di bawah tanah hingga pinggiran lembah. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, kereta yang memiliki kapasitas hingga 10.000 kursi ini akan beroperasi tiga kali sehari dan pihak Deutsche Bahn mengaku bahwa dalam pengaturan jadwal perjalanan kereta ICE “Sprinter” ini mempengaruhi sepertiga dari keseluruhan jadwal kereta jarak jauh.

Ada keunikkan lain dari proyek kereta anyar ini. Alih-alih menggunakan batu, rel akan ditempatkan di atas 160.000 pelat beton, dengan tujuan untuk menekan biaya perawatan dan rel dapat diletakkan dengan lebih presisi. Tidak hanya itu, penemuan fosil berusia 150 sampai 200 juta tahun pun turut menghiasi proses konstruksi terowongan.

Baca Juga: Tuai Kontroversi Hadirkan Kereta Cepat, Akankah California Rasakan Nasib Seperti Indonesia?

Tingginya biaya pembangunan jalur kereta api ini tentunya harus segera dipulihkan dalam beberapa bentuk. Menarik lebih banyak penumpang adalah salah satu strategi untuk mengentaskan masalah finansial ini, dan menaikkan harga tiket merupakan opsi keduanya. Untuk perjalanan dari Berlin menuju Munich, Deutsche Bahn memperkirakan penumpang harus merogoh kocek hingga €150. Itu berarti, harga tiket akan mengalami kenaikan lebih dari 13 persen dari harga yang berlaku saat ini.

Organisasi lingkungan Jerman, BUND, mengkritik dampak negatif terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh adanya konstruksi jalur kereta api ini. Tapi Deutsche Bahn mengatakan telah melakukan penanaman sekitar 600.000 pohon di area seluas 4.000 hektar sebagai usahanya untuk kembali menghijaukan lahan yang terkena dampak negatif dari pembangunan proyek ini.