Begini Kondisi ‘Jalanan’ di Ibukota dari Kacamata Seorang Pengamat Transportasi!

Kondisi jalanan yang semakin padat belakangan ini, khususnya di Ibukota, membuat banyak lapisan  masyarakat mau tidak mau menghabiskan waktu lebih lama di jalan. Siasat ‘pergi lebih awal’ pun nampaknya sudah mulai tidak terlalu efektif. Penyebab meradangnya kemacetan di Jakarta tentu sangat bervariasi, mulai dari jumlah kendaraan pribadi yang semakin tidak bisa dikontrol hingga beberapa proyek pembangunan yang memakan ruas jalan.

Baca Juga: Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!

Tidak hanya itu, otoritas setempat juga telah menyediakan sejumlah sarana transportasi umum, dengan harapan para pengguna kendaraan pribadi bisa beralih menggunakan moda tersebut. Namun pada kenyataannya, para pengguna kendaraan pribadi nampaknya lebih nyaman bermacet-macetan di jalan ketimbang harus berdesak-desakkan di dalam moda transportasi umum. Belum lagi kehadiran ribuan kendaraan roda dua yang mengatasnamakan diri  mereka sebagai ojek online, yang semakin memperkeruh  kemacetan di Jakarta.

Tentu hal tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dari kacamata seorang pengamat transportasi yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Damri, Setia N. Milatia Moemin mengatakan bahwa menghadirkan moda transportasi umum di Indonesia tidaklah mudah. Statemen tersebut, lanjutnya, dilatarbelakangi oleh karakter orang Indonesia yang notabene berbeda jauh  dengan warga negara lain.

“Salah satunya adalah dari jaringan Bus Rapid Transit (BRT) yang kita punya, armadanya menggunakan bus high deck. Tidak bisa BRT kita menggunakan bus low deck seperti yang digunakan di Guangzhou, Cina, yang notabene warganya jauh lebih mudah untuk diatur,” terangnya ketika ditemui KabarPenumpang.com, Kamis (1/3/2018) di Kantor Pusat Damri, Matraman, Jakarta Pusat. “Di Indonesia, sengaja sistem BRT kita menggunakan bus high deck, supaya orang-orang bisa lebih tertib dan tidak naik sembarangan,” imbuh mantan Ketua MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) DKI JAKARTA periode 1998 hingga 2003 ini.

Hal mendasar seperti karakter warga Ibukota yang unik seperti inilah yang akhirnya memaksa otoritas terkait untuk berpikir keras dalam menghadirkan moda transportasi  umum. Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Tia ini juga menumpukan asanya  pada sistem metro pertama di Indonesia, MRT Jakarta yang rencananya akan diluncurkan pada Maret 2019 mendatang. “Efisiensi ruang kota itu lebih bagus kalau pakai public transport,” tambahnya.

Baca Juga: Menilik Asam Garam Becak di Ibu Kota, Sempat Tenggelam Hingga Rencana Penghidupan Kembali

Dalam kesempatan tersebut, Tia juga mengatakan bahwa kebijakan Pemprov DKI terkait penghidupan kembali becak di Ibukota merupakan salah satu sinyal yang mengindikasikan bahwa Ibukota mengalami kemunduran. “Kalau becak sih saya melihatnya tidak manusiawi ya. Buat saya sih itu suatu kemunduran dalam hal kemanusiaan,” ungkap Tia.

Terlepas dari semua isu transportasi yang beredar belakangan ini, Tia tetap mendukung semua insisiatif Pemprov DKI yang berkenaan dengan ruang lingkup transportasi Ibukota, selama itu mampu mengentaskan problematika yang ada. “Sejauh pemerintahnya punya komitmen kuat terhadap transportasi publik, itu menurut saya bagus.” Tutupnya.