Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar

Masker tidur buatan LumosTech (apex.aero)

Beragam cara telah diupayakan untuk meminilasir dampak jetlag, mulai dari serangkaian tips sampai perangkat untuk mengatasi jetlag telah dirilis. Tapi toh tidak semua orang dapat mengatasi jetlag dengan mudah. Jetlag salah satu gangguan yang biasa terjadi dalam sebuah penerbangan dan kepada siapapun. Bahkan efeknya bisa terjadi hingga dua hari bahkan lebih saat mengunjungi suatu negara yang berbeda waktu dengan negara asal.

Baca juga: Sambut Rute Perth – London, Qantas Bantu Penumpang Atasi Jetlag dengan Coklat, Cabai dan Teh Herbal

KabarPenumpang.com merangkum dari laman apex.aero (8/5/2018), bahwa salah satu startup menawarkan suatu alat yang bisa menghilangkan efek jetlag. Perusahaan startup di California yakni LumosTech menghadirkan masker tidur buatan mereka.

Rencananya masker tidur pintar ini akan hadir pada pertengahan tahun ini dan cukup banyak maskapai penerbangan yang berminat dengan kehadirannya. Co Founder dan CEO LumosTech Vanessa Burns mengatakan, kehadiran masker tidur pintar ini menerapkan ilmu sains yang berlisensi dan sudah dipatenkan oleh Universitas Standford.

Masker tidur pintar ini saat digunakan akan menghadirkan cahaya redup yang bisa mereset tubuh agar menikmati tidurnya.

“Siklus tidur akan dikendalikan oleh cahaya. Kami telah mengetahui hal ini cukup lama. Dengan tampilan cahaya singkat kita bisa mengontrol waktu melatonin, yakni hormon yang mengontrol ketika Anda merasa lelah dan ketika merasa terjaga,” ujar Burns.

Burns megatakan, jumlah waktu yang dibutuhkan seorang penumpang untuk menggunakan masker sebelum keberangkatan tergantung kemana tujuan mereka.

“Untuk jetlag, kita benar-benar dapat menggeser siklus tidur tiga atau empat jam dalam satu malam,” ujar salah seorang alumni Stanford.

Contohnya seperti perjalanan dari San Francisco ke New York City ternyata sama dengan satu malam dengan masker tidur. Sedangkan ke London membutuhkan dua malam saat menggunakan masker tersebut.

Namun, meski memiliki fungsi dengan teknologi tinggi, masker ini terlihat dan terasa seperti teknologi versi rendah lainnya di pasaran. Dalam contoh dari San Francisc-New York City, berarti memaksa diri untuk tidur dan hanya terasa seperti jam 8 malam padahal sebenarnya penumpang akan merasa lelah pada jam 11 malam waktu New York.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Meski sudah banyak maskapai yang memesan masker tidur ini, tetapi Burns tidak mau menyebutkan siapa saja mereka. Namun, salah satu maskapaai yakni Lufthansa asal Jerman telah menghadirkan masker tidur mirip seperti ini buatan Neuroon dari Polandia.

Penumpang akan menggunakan terapi cahaya untuk meminimalkan efek jetlag pada penerbangannya. Ketika maskapai penerbangan lain mengikuti, masker tidur ini akan menjadi manfaat tambahan bagi pelancong baik yang akan wisata atau bisnis untuk tertarik menyewa masker tersebut agar menjadi bagian dari kebutuhan selama pejalanan.