Anak Krakatau Erupsi, Penyeberangan Selat Sunda Tetap Aman, Asal…

Sumber: Tribun

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan aktifitas dari Gunung Anak Krakatau yang untuk kesekian kalinya mengalami erupsi, yang terakhir terjadi pada Senin (25/6/2018) pukul 07.14 WIB kemarin. Adapun tinggi kolom abu yang dilaporkan oleh PVMBG tersebut mencapai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan kawah atau yang setara dengan 1.305 mdpl.

Baca Juga: Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan

Sudah barang tentu, erupsi dari Gunung Anak Krakatau ini dikhawatirkan akan mengancam keselamatan, tidak terkecuali keselamatan transportasi. Kendati erupsi melontarkan abu vulkanik dan pasir, namun sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menghimbau kepada masyarakat agar, “tetap tenang. Selama mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktifitas di dalam radius 1km dari puncak kawah,”

Lanjutnya, ia juga menambahkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini tidak membahayakan penerbangan, pun dengan pelayaran di Selat Sunda. “Status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (Level 2), sejak 26 Januari 2012,” tandas Sutopo.

Di sisi lain, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas 1 Banten, Yefri Meidison pun menelurkan penyataan yang sama. Melalui surat edaran yang diterima, ia menambahkan bahwa erupsi yang terdeteksi oleh seismogram ini memiliki amplitude maksimum 30mm dengan durasi kurang lebih 45 detik.

Selain dihimbau untuk tidak melakukan aktifitas di dalam zona aman yang sudah ditentukan (radius 1km), Yefri pun meminta agar setiap orang untuk meningkatkan kewaspadaan dengan cara memonitor dan memantau berita cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), KESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Ini Dia Serba-Serbi NOTAM, Pemberitahuan Yang Terkesan “Menakutkan”

Khusus untuk perahu yang melakukan pelayaran di Selat Sunda, Yefri menghimbau agar setiap awak untuk, “memastikan kondisi permesinan, kemudi, dan peralatan navigasi kapal lainnya telah berfungsi dengan baik sebelum berlayar,” tulisnya. “Selain itu, setiap kapal pun perlu ditinjau kembali kelengkapan dari alat keselamatan yang tersedia,” tandas Yefri.