Ada 9 Hal dari Penumpang Yang Tak Disukai Oleh Awak Kabin

Sumber: weekly.ascii.jp

Pemikiran Anda tentang pekerjaan awak kabin yang sangat mudah tentu saja keliru, pasalnya pekerjaan awak kabin udara  sejatinya penuh risiko dan menantang. Beberapa waktu lalu, KabarPenumpang.com di artikel terdahulu telah membahas apa saja yang dilakukan awak kabin sebenarnya.

Baca juga: Inilah 14 Tugas Awak Kabin Pesawat Yang Jarang Diketahui

Awak kabin juga manusia biasa seperti Anda, mereka bisa marah dan membenci. Hal ini akan terjadi jika ditemui penumpang yang sudah melakukan sesuatu yang tidak wajar atau melebihi batas kemampuan para awak kabin. KabarPenumpang.com merangkum dari laman bravotv.com, ada sembilan hal yang awak kabin tidak ingin penumpang lakukan dalam penerbangan.

1. Menggunakan toilet saat boarding
Toilet di pesawat biasanya berada di bagian depan atau belakang pesawat. Tapi, sebagai penumpang baiknya gunakan pikiran Anda saat kapan yang tepat menggunakannya. “Saya ingin penumpang berhenti menggunakan toilet saat boarding. Ada kamar mandi besar di terminal yang bisa digunakan sambil menunggu dua jam sebelum penerbangan mereka di lakukan,” ujar Cherise Stacy salah seorang awak kabin Jet Blue.

2. Memilih kantong muntah untuk sampah
Awak kabin bukanlah asisten rumah tangga atau ibu Anda yang akan terus-terusan membersihkan kotoran Anda. “Saya ingin penumpang berhenti menggunakan kantong muntah sebagai tempat sampah pribadi. Ini untuk muntah!” Ujar Stacy.

3. Mengajukan pertanyaaan tak layak
Di setiap pesawat tepatnya di belakang kursi penumpang selalu ada kartu menu. “Ini seperti pergi ke restoran dan kapan pelayan datang dan seseorang bertanya apa yang mereka dapatkan jika belum pernah terbang sebelumnya. Berhentilah meminta susu cokelat, Coke dan cookies, atau hal lain yang memang tidak ditawarkan,” kata Stacy.

4. Menggunakan meja untuk barang kotor
Sebagai penumpang, banyak hal yang bisa Anda lakukan di tempat duduk. Ini termasuk membaca, bermain game bahkan menonton tv. Membersihkan popok bayi? Memang tidak banyak yang menggunakan meja untuk mengganti popok bayi mereka. “Jika mengingat itu saya hanya akan muntah,” kata mantan seorang awak kabin Lisa Dinsmoor.

5. Bau Tak Sedap dari Penumpang
Kabin pesawat bukanlah kamar Anda sendiri, tetapi ruang publik. Melepaskan sepatu pada penerbangan jarak jauh sangat memungkinkan dilakukan. Tapi jika Anda memiliki kaki yang bau ini akan menjadi permasalahan bagi penumpang lain dan awak kabin.

“Suatu saat bekerja di kelas satu, saya harus membawa selimut ke seorang pria dan memintanya untuk membungkusnya di kakinya karena baunya sangat buruk,” kata Dinsmoor.

6. Berharap awak kabin tahu isi kepala Anda
Jangan berharap awak kabin tahu keinginan Anda. Jadi baiknya beritahu apa yang Anda butuhkan sebelum mereka berjalan meninggalkan Anda.

“Saya benci bertanya kepada seorang penumpang, apakah mereka mau minum kopi dan memberikannya kepada mereka. Kemudian mereka berteriak kepada Anda bahwa mereka menginginkan krim dan gula di dalamnya.” ujar Dinsmoor.

7. Ruang sisa pada bagasi kompartemen
Saat Anda mencoba memasukkan tas di kompartemen yang penuh, bukan di bawah kursi, awak kabin bukan tidak menghargainya tetapi mencoba untuk memberikan kepada pemilik untuk diletakkan dibawah. “Jika seseorang memiliki barang yang dipaksakan masuk ke kompartemen atas, tidak perlu khawatir karena saya akan bertanya itu barang milik siapa tanpa malu,” ujar Dinsmoor.

8. Mengabaikan peringatan
Dalam suatu penerbangan, ada saja penumpang yang kerap mengabaikan peringatan, sebut saja tidak mengindahkan peringatan untuk mematikan ponsel sesaat sebelum take off. Lainnya upaya menolak menegakkan sandaran kursi sebelum landing atau saat cuaca buruk. Dalam kasus ini, beberapa awak kabin kerap bersitegang dengan penumpang yang keras kepala.

Baca juga: Benarkah Penumpang Kelas Ekonomi Kurang Perhatian? Ini Kata Awak Kabin

9. Bersikap kasar
“Saya berharap penumpang berhenti bersikap kasar satu dengan yang lainnya. Ya, kursi sempit, tapi itu tidak memberi siapapun hak untuk membuat frustasi mereka pada orang lain,” kata Heather Poole, petugas penerbangan yang juga penulis New York Times.

Poole berharap agar penumpang berhenti panik dan belajar bagaimana mengekspresikan keinginan dan kebutuhan mereka. “Saya mungkin akan sedikit lebih bersedia untuk melampui panggilan tugas jika mereka meneriaki saya terlebih dahulu. Saya berharap, lebih banyak penumpang akan mengenal saya dengan kontak mata, tolong dan terima kasih juga akan baik, saya juga berharap penumpang juga bisa mengingat saya juga orang, walaupun saya adalah awak kabin.”